TAPUT.SIBARAGASNEWS, Siborongborong - Mentari baru saja menampakkan cahaya di langit biru di Siborongborong tapi suhu panas membara mendadak mendidih LP, sang Kepala Desa yang biasanya berwibawa tampak memimpin warga, kini berdiri di depan sebuah pintu kontrakan dengan napas memburu.
Sudah sebulan lamanya ia menyimpan bara kecurigaan, mencium aroma pengkhianatan yang dibalut alasan "dinas luar kota" yang rapi. "Dinas? Zoom? Atau dusta?" Mungkin itu yang berkecamuk di kepalanya.
Baca Juga:
Bupati Tapanuli Utara Buka TOP Olimpiade Sains VII, Dorong Generasi Muda Siap Berkompetisi
Tok tok tok pada daun pintu suatu rumah penginapan sang lelaki dan wanita mencurigakan lalu pelan-pelan pintupun terbuka. Begitu pintu terbuka, hancur sudah sisa-sisa kesabarannya. Di dalam sana, istrinya tidak sedang memegang laptop untuk rapat daring, melainkan sedang bersama IS, seorang ASN dari kantor kepegawaian BKSDM.
Tanpa aba-aba, heningnya pagi pecah oleh teriakan dan hantaman, adu Jotospun terjadi, karena aroma ranjang perselingkuhan menghantui. Bukan sekadar cekcok mulut, suasana berubah menjadi ring tinju dadakan! Saksi mata di sekitar lokasi, mulai dari tetangga hingga karyawan salon.
Hanya bisa terpaku melihat dua pria dewasa itu terlibat adu jotos yang brutal.
Pukulan demi pukulan mendarat, harga diri dipertaruhkan di gang sempit itu. Wajah IS yang biasanya rapi sebagai abdi negara, kini harus berhias memar biru setelah hantaman keras dari sang Kades yang gelap mata.
Baca Juga:
Dr JTP Resmikan SPPG Bergizi Di Kecamatan Muara
Drama Surat 'Sakti' dan Alibi yang runtuh tidak berhenti di situ.
Di balik debu perkelahian, muncul klaim mengejutkan. Surat Perjanjian, Sang istri mendadak mengaku sudah ada "surat ketidakcocokan". Tapi LP membela diri dengan sengit, "Itu surat baru muncul setelah saya gerebek, dan saya tak sudi tanda tangan!"
Skandal absensi penuh Kebohongan sang vistri terbongkar telak.
Selama setahun terakhir, kantornya menyatakan tidak ada dinas luar. Alibi "rapat di luar kota" ternyata hanyalah tabir asap untuk menutupi pertemuan rahasia di rumah kontrakan tersebut.
Kini, debu di lokasi kejadian mungkin sudah hilang, tapi "perang" baru dimulai di kantor polisi. IS yang babak belur melapor ke Polsek dengan tuduhan penganiayaan, sementara keluarga LP membalas dengan laporan dugaan perzinaan ke Kepolisian Resort
Kota Sibirongbirong kini punya satu cerita yang takkan terlupakan, Tentang seorang pemimpin desa yang menjemput kebenaran dengan tangannya sendiri, dan seorang ASN yang harus membayar mahal sebuah "pertemuan terlarang".
Nikmat membawa sengsara.
[Editor: Eben Ezer]